Jakarta, CNN Indonesia —
Wakil Ketua Umum PBSI, Taufik Hidayat, menilai atlet-atlet badminton Indonesia harus mengetahui kapasitas diri dalam menggunakan media sosial.
Taufik menilai media sosial menjadi salah satu faktor yang ‘merusak’ atlet. Komentar dan tekanan dari netizen bisa memengaruhi mental pemain dalam bertanding.
Mantan pebulutangkis nomor satu Indonesia di sektor tunggal putra itu menyinggung soal media sosial ketika menjawab pertanyaan perihal informasi dari seorang Olimpian yang menyebut pengurus menekan atlet untuk selalu menang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Olimpian siapa itu? Kasih tahu dulu. Menang enggak dia di Olimpiade? Tapi begini, tekanan itu banyak juga dari media sosial. Saya bilang ke atlet untuk tidak usah lihat media sosial kalau memang tidak kuat. Kalau kuat, silakan,” tutur Taufik dalam konferensi pers, Jumat (8/5) pagi.
Soal kondisi psikologis pemain, Taufik pun mendukung soal peranan psikolog dalam membantu atlet di PBSI.
“Kalau tidak ada masalah psikolog, ya tidak butuh psikolog. Persoalan ini kan beda-beda setiap atlet. Kami bebaskan atlet untuk ada psikolog dari luar. Kami tidak ada masalah. Yang penting atlet kasih tahu psikolognya siapa agar bisa sinkron. Psikolog ini kan cocok-cocokan juga,” ucapnya.
Pengurus PBSI dan atlet bulu tangkis Indonesia saat ini berada dalam sorotan karena hasil yang tidak memuaskan dalam ajang Thomas Uber Cup 2026.
Tim Thomas Indonesia gagal lolos ke fase gugur setelah hanya menempati peringkat ketiga di grup. Ini merupakan kali pertama dalam sejarah tim beregu putra Indonesia tidak bisa lolos dari fase grup Thomas Cup.
(nva/sry)
Add

as a preferred
source on Google

