Jakarta, CNN Indonesia —
Maskapai berbiaya murah, AirAsia menandatangani kesepakatan pembelian 150 pesawat Airbus A220-300 senilai US$19 miliar atau sekitar Rp329,79 triliun (asumsi kurs Rp17.357 per dolar AS). Langkah ekspansi besar-besaran ini dilakukan di tengah lonjakan harga avtur akibat ketegangan geopolitik global.
Berdasarkan IATA, harga avtur global saat ini ada rata-rata sebesar US$181,22 per bbl (blue barrel).
Kesepakatan tersebut diumumkan di fasilitas produksi Airbus di Mirabel, Kanada. Dalam pernyataan resminya, pendiri AirAsia Tony Fernandes menyebut pesawat A220 sebagai armada yang tepat untuk mendukung ekspansi bisnis maskapai ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ini adalah alat yang sempurna untuk fase pertumbuhan kami berikutnya,” ujar Fernandes dikutip dari AFP, Kamis (7/5).
Ia menambahkan pemesanan tersebut mencerminkan ambisi jangka panjang AirAsia di tengah tantangan industri penerbangan global.
Selain 150 unit awal, AirAsia juga membuka peluang untuk menggandakan pemesanan hingga 300 pesawat di masa mendatang. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan permintaan penumpang di kawasan Asia.
CEO Airbus Commercial Aircraft Lars Wagner mengatakan pesawat A220 akan membuka peluang rute baru yang sebelumnya sulit dijangkau. Menurutnya, efisiensi pesawat tersebut menjadi keunggulan penting di tengah tekanan biaya operasional maskapai.
“Pesawat A220 akan membuka rute baru di Asia yang sebelumnya tidak memungkinkan,” ujarnya.
Ia juga menyebut armada baru ini akan membantu AirAsia mengalihkan pesawat berbadan besar ke rute jarak jauh seperti Amerika Utara, Australia, dan Eropa mulai 2028.
AirAsia juga menjadi pelanggan pertama di dunia untuk konfigurasi baru A220 berkapasitas 160 kursi. Konfigurasi tersebut dinilai lebih efisien untuk penerbangan jarak menengah dengan tingkat konsumsi bahan bakar yang lebih rendah.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan kesepakatan ini juga menjadi kabar baik bagi industri manufaktur negaranya. Menurut dia, seluruh pesawat akan diproduksi oleh pekerja Kanada di fasilitas Airbus setempat.
“Sebanyak 150 pesawat itu akan dibangun oleh pekerja Kanada di pabrik-pabrik Kanada. Bagi ribuan insinyur, teknisi listrik, tukang las baja, dan spesialis TI, ini akan menjadi pekerjaan bergaji tinggi dan menarik untuk membangun pesawat luar biasa yang menghubungkan jutaan orang di seluruh dunia,” pungkas Carney.
(ldy/ins)
Add

as a preferred
source on Google

